Tidak Ada Kesalahan, Yang Ada Hanya Pelajaran

Pertumbuhan adalah proses eksperimen, suatu rangkaian percobaan, kekeliruan, dan kemenangan sesekali. Eksperimen-ekseperimen yang gagal juga merupakan sebagian dari proses, sama seperti eksperimen-eksperimen yang berhasil.

Pertumbuhan manusia adalah proses eksperimen, percobaan, dan kekeliruan, yang akhirnya mengantar Anda kepada kebijaksanaan. Setiap kali Anda memilih untuk mempercayai diri sendiri dan melakukan tindakan, Anda tidak pernah bisa yakin dengan pasti tentang hasilnya. Kadang-kadang Anda berhasil dengan gemilang, dan kadang-kadang Anda menjadi kecewa. namun, meskipun begitu, eksperimen-eksperimen yang gagal tidak kalah pentingnya daripada yang akhirnya sukses; bahkan, Anda belajar lebih banyak dari yang Anda anggap “kegagalan” Anda dari pada dari “sukses-sukses” Anda.
Kebanyakan orang merasakan kekecewaan dan kemarahan besar bila rencana-rencana yang sudah mereka jalankan dengan membuang banyak tenaga, waktu, dan uang, ternyata gagal. Reaksi pertama yang kebanyakan kita rasakan adalah bahwa kita sudah gagal. Memang sangat mudah mengambil kesimpulan yang mematahkan semangat, tetapi itu akan menghambat kemampuan Anda untuk maju dalam pelajaran-pelajaran hidup Anda.
Daripada memandang kesalahan-kesalahan Anda sendiri sebagai kegagalan dan kesalahan orang lain sebagai hal enteng, maka sebaiknya Anda memandangnya sebagai kesempatan untuk belajar. Seperti yang dikatakan oleh Emerson, “Setiap malapetaka merupakan pemacu dan petunjuk yang berharga.” Setiap situasi yang Anda tidak berhasil tangani sesuai harapan Anda, adalah suatu kesempatan untuk belajar sesuatu yang penting tentang pikiran dan tingkahlaku Anda sendiri. Setiap situasi di mana Anda merasa orang melakukan kesalahan kepada Anda, adalah kesempatan untuk belajar sesuatu tentang reaksi Anda. Baik itu suatu kesalahan yang Anda lakukan sendiri atau kesalahan yang dilakukan orang lain, suatu kesalahan hanyalah kesempatan untuk berkembang lebih lanjut pada jalan spiritual Anda.
Bila Anda memikirkan semua penderitaan hidup, kekecewaan-kekecewaan, luka-luka hati, kehilangan-kehilangan, penyakit-penyakit, semua malapetaka yang mungkin Anda derita dan mengalihkan pandangan Anda untuk melihatnya sebagai kesempatan untuk belajar dan tumbuh, maka Anda memberdayakan diri Anda sendiri. Anda bisa mengendalikan kehidupan Anda dan menghadapi tantangan-tantangannya, daripada merasa kalah, menjadi korban, atau hanyut terkatung-katung.
Untuk memudahkan proses belajar ini, pertama-tama Anda perlu menguasai pelajaran dasar dari welas asih, sikap memafkan, etika dan terakhir, humor. Tanpa pelajaran-pelajaran mendasar ini, Anda tetap terbelenggu pada pandangan sempit Anda dan tidak mampu menuangkan kesalahan ke dalam kesempatan belajar yang berharga. (Cherie Carter, 2004, Bila Hidup Sebuah Permainan, hal. 30-35)
Hal-hal di atas merupakan bagian aturan yang ke tiga dari sepuluh aturan untuk jadi manusia yang disajikan oleh Cherie. Meskipun tidak mudah untuk belajar dari sebuah kegagalan, kesalahan, malapetaka atau apapun namanya, tapi itu adalah pilihan yang paling tepat bila Anda ingin tetap tumbuh dan berkembang sebagai manusia. Bukankah sulit tidak berarti tak dapat dilakukan? Apakah Anda takut dengan kesulitan? Kita mungkin perlu ingat, bahwa kesulitan bahkan merupakan sebuah pilihan bagi orang yang mau mencapai kerendahan hati. “Pilihlah selalu yang tersulit”, demikian Ibu Teresa dari Kalkuta memberikan salah satu tawaran yang sangat indah bila kita ingin mencapai kerendahan hati. Semakin jelas, bahwa selalu ada pelajaran berharga dari apa yang kita sebut kesalahan.
Lebih dalam lagi baiklah kita melihat, pelajaran apa yang didapat dari sebuah kesalahan. Pertama, menjadi sadar bahwa manusia itu memang terbatas atau tidak sempurna. Maka butuh orang lain untuk menjadi sempurna. Hal ini juga menyebabakan seseorang membutuhkan kekuatan dari luar diri manusia, yakni Allah sendiri. Manusia diberi kemampuan untuk menghargai setiap perjuangan hidupnya. Melahirkan sikap empati terhadap orang lain dan memahami sesama yang mungkin mengalami kegagalan atau melakukan kesalahan, tidak mudah curiga, apalagi menuduh dan menghakimi.
Kedua, kesalahan dapat membuat seseorang menjadi bijaksana. Tentu saja ini terjadi bila seseorang benar-benar mau belajar secara serius dari sebuah kesalahan. Dia tidak mau menjadi kuda ‘bodo’ yang selalu jatuh pada lubang yang sama. Saya jadi teringat seorang aktivis mahasiswa yang ditanya: ‘apa motto hidup Anda?’ Dan dia menjawab, “tidak takut gagal, tapi juga tidak mau gagal terus menerus”. Demikianlah, akitivis muda itu menjawab dengan yakin dan mantap. Kesalahan akan membuat orang lebih hati-hati dalam mengambil sikap-menentukan pilihan (bukan lamban lho!), waspada terhadap segala kemungkingan (bukan takut sich!), dan yang jelas, berguna bagi kebaikan sesama (bukan kepentingankoe semata!), dan masih banyak lagi, yang akhirnya mengarah pada sikap yang bijaksana.
Ketiga, sepakat dengan pepatah lama yang mengatakan bahwa kegagalan adalah sukses yang tertunda. Semangat ini membuat seseorang gigih dalam berjuang demi suatu yang bernilai baik dan benar. Orang tidak kehilangan arah meski gagal. Dia tetap punya orientasi hidup, punya impian, cita-cita dan harapan di masa datang. Kesalahan-kegagalan menempa dia menjadi manusia yang kuat dan tidak kehilangan kepercayaan. Bahkan dia tetap memiliki kredibilitas yang tinggi. Salah, gagal, petaka, tantangan… Siapa takut???
Anda dapat meneruskan renungan ini, dan silahkan Anda tambahkan sendiri pelajaran yang Anda temukan pada point yang ke empat, kelima, keenam, ketujuh, dan ke…n. Selamat Belajar!

Modesta HK

Comments are closed.